Orangtua Sempurna
Orangtua hebat tidak perlu menjadi pahlawan, tapi cukup menjadi manusia yang sadar akan keterbatasan dan kekuatannya. ~Nietzche~
Seorang anak kelas 5 SD dalam ruang terapi saya mengatakan sesuatu yang mengagetkan. Gadis mungil nan cantik itu mengatakan “Saya tidak akan bisa menjadi seperti Papa dan Mama yang begitu hebat dan menjadi pahlawan bagi banyak orang. Saya hanya ingin menjadi baby sitter saja seperti mbak pengasuh saya”.
Tidak ada yang jelek jika kita ingin menjadi baby sitter. Namun yang saya kagetkan adalah anak seusia dia biasanya memiliki cita-cita yang muluk dan tinggi. Biasanya ia begitu lepas menyebutkan cita-citanya, entah ingin jadi pilot, dokter dll. Mengapa ini bisa begitu? Yang membuat pernyataanya tidak enak didengar adalah awalan kalimatnya yang menyatakan bahwa ia tidak akan bisa menjadi sehebat kedua orangtuanya karena itu ia memilih suatu cita-cita yang sederhana saja karena ia berpikir bahwa cita-cita itu mudah ia dapatkan. Intinya gadis mungil itu menilai rendah dirinya dan menilai orangtuanya sangat tinggi dan sempurna. Jadi jika ia marah, jengkel dan tidak bisa mengerjakan sesuatu itu karena memang ia tak mampu.
Selidik punya selidik ternyata kedua orangtuanya sering memarahi si anak dengan kalimat yang selalu membandingkan kehebatan dirinya dengan kelemahan anaknya. “Ibu tidak pernah melakukan kesalahan konyol semacam ini saat dulu seusia kamu” atau “Ayah selalu diharuskan bisa oleh kakek kamu sehingga sekarang jadinya sukses seperti ini. Karena itu kamupun juga pasti bisa. Masa hanya begitu saja nggak bisa? Ayo buktikan kalau kamu juga hebat!” atau “Kamu ini kok tidak seperti ayahmu sih? Contohlah ayahmu yang selalu bekerja dan belajar terus, masa masih kecil sudah malas nanti kalau besar kamu mau jadi apa?” (mungkin jawaban si anak dalam hati : jadi baby sitter aja, mudah kan?)
Para orangtua tercinta, berhati-hatilah terhadap apa yang Anda ucapkan dan lakukan pada anak-anak Anda. Karena apa yang kita lakukan dan ucapkan akan merangsang mereka berpikir sesuatu tentang diri mereka sendiri. Saya berdoa itu pikiran positif. Namun ingat kita tak bisa mengontrol pikiran orang lain bahkan walau anak sendiri. Pikiran langsung bereaksi begitu mendapatkan stimulasi. Pastikan stimulasi Anda positif dan tidak membuat pikiran anak memiliki celah untuk berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Karena apa yang mereka alami diusia dini, entah itu positif atau negatif sangat membekas didalam dirinya, bahkan bisa jadi akan terbawa sampai usia dewasa.
Seperti yang dialami oleh salah satu ‘pasien’ saya berikut ini. Sebut saja namanya Miranda, ia seorang karyawati di sebuah perusahaan Jepang. Ia tidak tahu awal mulanya bagaimana, sampai suatu hari ia merasa tidak berdaya, nggak bisa fokus terhadap pekerjaannya, bahkan ia terancam akan dipecat kalau tidak bisa meningkatkan performance nya. Selidik punya selidik, ternyata ‘rasa tidak berdaya’ nya tersebut adalah sebuah ‘egostate’ dimasa kecilnya. Waktu itu saat kelas 5 SD sebelum berangkat ke Sekolah ia minta disisir rambutnya oleh ibunya. Si Ibu yang sudah rapih, dan siap-siap berangkat ke kantor ini menolak untuk menyisir rambut anaknya, mungkin karena waktunya sudah mepet takut telat sampai dikantor. Nah si Miranda kecil menangis meraung-raung agar diperhatikan oleh ibunya. Saat itu yang terjadi malah ibunya menjambak rambutnya lalu menyerahkannya ke babby sitter. Rasa kecewa yang begitu mendalam kepada ibunya ini, rupanya mengendap dipikiran bawah sadar nya dan muncul secara tiba-tiba saat dewasa sekarang ini.
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI

















